March 01, 2010

The Brown's Trip Part 1

Annyonghaseyo...

Apa kabar semua? Saat ini, saya berada di tengah ruangan redaksi tempat saya bekerja. Sembari menunggu Choco kembali menjemput saya, saya memutuskan untuk kembali meneruskan postingan yang telah ada. And here we are...

Beberapa hari ini, dimana saya sering 'berwisata kuliner' dengan seseorang, saya menemukan beberapa kejadian yang berbeda dan cukup bermakna. Tentu, ini yang ingin saya bagi dengan kalian semua. Kita namai saja postingan kali ini yaitu The Brown's Trip alias Perjalanan si Coklat.


Gadis Kecil di Sana

Suatu saat, saya pulang dari tempat saya bekerja dan pergi untuk makan malam bersama Choco, tentunya. Di saat kami berhenti di salah satu perempatan lampu merah, seorang anak kecil berwajah manis menghampiri saya. Dia memandang saya dan menengadahkan telapak tangannya. Sayangnya, saya tidak dapat memberikan apapun kepada gadis kecil itu. Alih-alih pergi, dia justru menggenggam tangan saya. Dia menyukai kuteks coklat yang saya pakai, memainkan, dan memilin jemari saya. Akhirnya, dia meminta kuteks saya. Sayangnya, hanya maaf yang dapat saya ucapkan. Seketika, dia pergi sambil tersenyum kepada saya... "Kukunya cantik, mbak..."

Dari kejadian tadi, saya sempat memikirkan beberapa hal. Pertama, dari apa yang dia inginkan. Sesuatu yang sebenarnya simple menurut kita tetapi menjadi hal yang menakjubkan menurutnya. Seakan menjadi 'pengetuk' pintu hati kita untuk tetap bersyukur atas apa yang kita miliki dan menyadari masih banyak hal kecil yang sebenarnya besar, tak mengurungkan niat saya untuk mencari pernak-pernik besar lainnya yang ada di hidup saya.

Kita bisa menganalogikannya seperti di saat saya mencampurkan warna merah ke dalam wadah cat yang sebelumnya sudah dituangkan cat yang berwarna biru dan kuning. Simple memang. Namun, jika hanya sedikit warna merah yang saya tuangkan tentu takkan menjadi warna coklat yang saya inginkan. Yang ada hanya warna hijau tua-keruh. Sebaliknya, jika saya menuangkannya terlalu banyak, tentu yang ada akan berubah menjadi coklat pucat yang tidak saya suka. Mudah memang untuk mengubah kedua percobaan itu agar menjadi warna coklat yang saya sukai. Tinggal menambahkan kedua warna lainnya. Namun, itu akan membuang-buang jatah warna yang seharusnya bisa saya simpan.

Bingung? Mari kita berpikir ulang. Merah di sini kita umpamakan sebagai suatu hal yang kita miliki saat ini. Biru dan kuning adalah kebutuhan-kebutuhan sekunder yang bisa mendukung apa yang kita lakukan. Jika hanya sedikit yang kita miliki, tentu kita harus ekstra keras untuk menjadikannya optimal dalam mencapai tujuan. Namun, apabila terlalu banyak yang kita butuhkan atau kita miliki, menurut saya, itu cukup membuat hidup saya sedikit kerepotan alias belepotan. Ingat! Coklat itu harus pas takarannya *maksa.com*. Lalu, yang saya maksud dengan mudah saja menambahkan unsur kuning dan biru itu sama saja dengan memakai tabungan energi kita yang seharusnya dapat kita simpan untuk kesempatan lainnya. Yah, saya tahu kadang kita perlu melakukannya tetapi jangan jadikan itu sebagai hal yang 'sepele' karena lagi-lagi, itu yang akan menjadi hal 'besar' (berdaarkan pengalaman hehe.red). Jadi, hampir setiap hal kecil dalam hidup kita sangat berpengaruh terhadap apa yang kita lakukan. Jadikan warna coklat yang ada merupakan warna coklat yang cenderung pas di hati. Daripada, mencampur warna seenaknya meski pada akhirnya akan menjadi warna coklat sempurna. Lagi-lagi ingat! Coklat itu harus memiliki takaran yang pas, bukan takaran yang sempurna.

And the Connection is...

Hubungan antara cerita tentang si gadis cilik dan hal pertama yang saya pikirkan adalah the simple thing that you do or what you have may be a big wish or a big thing for the others. Dan coklat takkan menjadi coklat jika tidak memiliki takaran unsur yang pas.


Notes from Choco
M
enurut Choco atas apa yang saya tulis kali ini cukup membuat saya lega. Sebagi percobaan opini pembaca, gituh. Katanya, "Ya...Setiap orang itu punya pandangan dan tujuan yang berbeda-beda. Bagaimana kondisi jiwanya misalnya. Nggak selamanya apa yang menurut kita pas, menurut mereka sama..." . Intinya sih begitu, menurutnya. Yup, lagi-lagi karena bukan takaran yang sempurna yang kita inginkan, melainkan takaran yang pas di hati maupun yang pas dengan realita yang kita jalani.

Yup, maybe segitu dulu perjalanan si Coklat bagian pertama. Semoga anda suka atau sedikitnya mau membaca hal simple yang saya tulis. Semoga kita senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki. Amiin. Good luck 4 all of u...
Wassalam

February 26, 2010

Brown is Chocolate

Hidup itu coklat
Saya mengatakan kalau hidup saya itu coklat. Mengapa? Karena coklat itu didapat dari campuran beberapa warna. Merah, kuning, dan biru. Merah yang dapat saya artikan dalam hidup saya adalah bagian hidup saya yang menjelaskan diri saya sendiri. Sedangkan, kuning merupakan berbagai macam emosi yang ada dalam hidup saya. Yang terkahir, biru merupakan lika-liku dan proses yang saya jalani dalam hidup saya. Nah, kalau digabungkan akan menjadi warna coklat yang menyusun kesatuan yang saya jalani dari lahir hingga saya tiada nanti. Seorang guru pun pernah berkata pada saya kalau coklat itu sebenarnya pahit tapi terasa berbeda setelah diberi perasa. Kalau saya umpamakan dalam hidup saya, hidup saya sering dilanda masalah yang bermacam-macam dan kadang terasa pahit kalau saya tidak berhasil mencari jalan keluarnya. Namun, akan terasa berbeda saat saya menemukan teman maupun beberapa hal yang bisa membuat masalah saya lebih mudah untuk diselesaikan dan menjadi sesuatu yang lebih terasa 'berbeda'. It's all about color of your life.

Brown is Chocolate...
Menurut bahasa Inggris, setahu saya, Brown itu artinya coklat. Tentu, dalam arti warna. Namun, brown always related to chocolate. Yup. Sebatang coklat memiliki warna (brown) dan di dalamnya mengandung unsur coklat (chocolate). Hidup saya cukup terpengaruh karenanya. Terkadang, saya sering tidak menyadari kalau masalah yang saya hadapi (sebatahg coklat) itu ada dalam diri saya (chocolate) dan selalu berkaitan dengan hidup saya (berwarna brown). Itulah yang memotivasi saya untuk tak kalah dengan segala yang saya hadapi karena --kembali lagi-- itu juga merupakan bagian hidup saya dan memang ada pada diri saya. Kalau tidak, hidup takkan berwarna, kan? Remember! Brown is Chocolate, itu yang selalu saya tekankan pada diri saya.

It's Choco Time
Nah, kalau sudah berkutat dengan masalah, saya pasti akan melakukan ritual ini. Makan coklat, teman-teman. Sekedar info, coklat dapat membantu kita untuk mengontrol emosi kita. Saya membacanya di salah satu majalah anak yang pernah saya baca saat berumur 13 tahun. Selain itu,coklat dengan kandungan phenylethylamine yang adalah suatu substansi mirip amphetanine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak yang kemudian pada gilirannya menghasilkan dopamine. FYI, dopamine berdampak muncul perasaan senang dan perbaikan di hati. I Love it!. Phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta (hati berbunga). Makanya, kalau jatuh cinta sambil makan coklat *eh, terbalik* maksudnya makan coklat di saat jatuh cinta. Wah, bisa dobel-dobel, tuh. Apalagi, dari survey Universitas harvard tahun 1916 - 1950, makan coklat bisa memperpanjang umur loh... Hehe. tapi, saya menyarankan untuk tidak memakan coklat terlalu banyak. Yang pasti bukan bertambah umur, malah diabetes akut. :p


You Say Chocolate, You Call My Name
Nah, sekedar perkenalan awal. Nama saya Karina. Panggil saja Nina. Saya senang makan coklat. Hobi mengoleksi baju berwarna coklat. memiliki kekasih berkulit coklat, dan tidak pernah meninggalkan setidaknya satu atribut berwarna coklat. Jadi, if you say chocolate, be careful, i'll take my way to you. hehe. Jadi, selamat menikmati postingan pertama saya. kapan-kapan saya lanjutkan kembali mengulas all about coklat. wassalam

Note from 'Choco'
Saat melihat deretan record chat saya. Saya menemukan kata-kata dari Choco yang tulisannya seperti ini "Menurutku, kalau cinta itu coklat, berarti cinta itu adalah kedekatan hati yang sangat bijaksana untuk nerima ketidaksempurnaan sifat manusia..." *seketika saya takjub dan terdiam. Hehe... Itu didapat dari teori warnanya saat dia kuliah desain. *sst, jangan bilang-bilang Choco kalau teori warna saya salah. Hehe.. Pembaca yng lain juga, ya. Selamat menikmati postingan pertama saya. *lupa kalau saya sudah menulisnya tadi*


n_n